(10) Hai orang-orang yang beriman,
sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari
azab yang pedih?
(11) (Yaitu) kamu beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang
lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,
(12) niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu
dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam syurga Adn. Itulah
keberuntungan yang besar.
(13) Dan (ada lagi) karunia yang lain
yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat
(waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.
Telah
dijelaskan, bahwa titik awal Dakwah Islamiyyah berpangkal pada konsepsi iman
dan amal sholeh yang berlandaskan ilmu pengetahuan yang dalam ayat-ayat surat
As-Shaf di atas di terangkan sebagai suatu perniagaan yang paling beruntung, dimana amal sholih yang ditonjolkan disini, yaitu “berjihad fi sabilillah”, berjuang di jalan Allah dengan mempertaruhkan harta benda dan nyawanya.
A.
ANALISIS
FILOSOFI DAKWAH
a. Etimologis
Kata dakwah adalah derivasi dari
bahasa Arab “Da’wah”. Kata kerjanya da’aa yang berarti memanggil, mengundang
atau mengajak.
Dakwah karangan Moh. Ali Aziz
(2009:6), kata da’a mempunyai beberapa makna antara lain memanggil, mengundang,
minta tolong, meminta, memohon, menamakan, menyuruh datang, mendorong,
menyebabkan, mendatangkan, mendoakan, menangisi dan meratapi.
Dakwah menurut islam adalah mengajak
manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dangan perintah
tuhan, untuk kemaslatan dan kebahagian mereka didunia dan akhirat.
Dari berbeda pengertian tersebut sebenarnya
semuanya tidak terlepas dari unsur aktifitas memanggil. Mengajak adalah
memanggil seseorang untuk mengikuti kita, berdoa adalah memanggil Tuhan agar
mendengarkan dan mengabulkan permohonan kita, mendakwa/menuduh adalah memanggil
orang dengan anggapan tidak baik, mengadu adalah memanggil untuk menyampaikan
keluh kesah, meminta hampir sama dengan berdoa hanya saja objeknya lebih umum
bukan hanya tuhan, mengundang adalah memanggil seseorang untuk menghadiri
acara.
Contoh malaikat Israfil adalah yang
memanggil manusia untuk berkumpul di padang Masyhar dengan tiupan Sangkakala,
gelar adalah panggilan atau sebutan bagi seseorang, anak angkat adalah orang
yang dipanggil sebagai anak kita walaupun bukan dari keturunan kita.
Kata memanggil pun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
meliputi beberapa makna yang diberikan Al-Quran yaitu mengajak, meminta,
menyeru, mengundang, menyebut dan menamakan. Maka bila digeneralkan makna
dakwah adalah memanggil.
b. Terminologis
a) Dakwah adalah perintah mengadakan
seruan kepada sesama manusia untuk kembali dan hidup sepanjang ajaran Allah
yang benar dengan penuh kebijaksanaan dan nasihat yang baik (Aboebakar Atjeh,
1971:6)
b) Dakwah adalah menyeru manusia kepada
kebajikan dan petunjuk serta menyuruh kepada kebajikan dan melarang kemungkaran
agar mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat (Syekh Muhammad Al-Khadir Husain).
c) Dakwah adalah suatu aktifitas yang
mendorong manusia memeluk agama Islam melalui cara yang bijaksana, dengan
materi ajaran Islam, agar mereka mendapatkan kesejahteraan kini (dunia) dan
kebahagiaan nanti (akhirat) (A. Masykur Amin)
Dari defenisi para ahli di atas maka
bisa kita simpulkan bahwa dakwah adalah kegiatan atau usaha memanggil orang
muslim mau pun non-muslim, dengan cara bijaksana, kepada Islam sebagai jalan
yang benar, melalui penyampaian ajaran Islam untuk dipraktekkan dalam kehidupan
nyata agar bisa hidup damai di dunia dan bahagia di akhirat. Singkatnya,
dakwah, seperti yang ditulis Abdul Karim Zaidan, adalah mengajak kepada agama
Allah, yaitu Islam.
c. Cara
melaksanakan dakwah menurut islam
Di atas sudah kami jelaskan tentang
pengertian dakwah berdasarkan islam yang kami kutip dari Toha yahya umar, namun
dalam berdahwah di jelaskan di dalam Al- Quran Surat An-Nahi tentang teori-teori
berdakwah, ajaran-ajaran pokok tentang dakwah dan menjadi patokan dalam
berdakwah ayat itu ialah:
Artinya:
“Serulah (manusia) kepada jalan
Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara
yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk”. (An-Nahi:125)
Yang di maksud dengan Hikmah: ialah
Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan
yang bathil.
B.
MAKNA
JIHAD
1. Secara etimologi
Jihad berasal dari Kata جهد
mengandung arti kesulitan dan kesukaran dan yang mirip dengannya atau upaya
sungguh- sungguh yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan.
2. Secara terminology
Jihad berarti kemampuan yang
menuntut sang mujahid mengeluarkan segala daya dan kemampuannya demi mencapai
tujuan tanpa mengenal putus asa, menyerah dan tanpa pamrih.
Definisi jihad menurut para Ahli:
a) Ibn Mandzur jihad adalah memerangi
musuh, mencurahkan segala kemampuan dan tenaga berupa kata-kata, perbuatan,
atau segala sesuatu yang di mampui.
b) M Chirzin mendefinisikan jihad
adalah sebagai seruan kepada agama yang Haq.
3. Macam-macam Jihad
Menurut pakar al-Qur’an ar-Raghib
al-Isfahani dalam kamus al-Qur’annya Muj’am Mufradat al-Fazh al-Qur’an
menegaskan bahwa jihad adalah mengerahkan segala macamtenaga untuk mengalahkan
musuh sehingga dalam hal ini jihad dibagi:
a) Mengahadapi musuh yang nyata.
b) Menghadapi syaitan.
c) Menghadapi nafsu yang terdapat dalam diri masing-masing.
Sedangkan menurut Zaidan jihad
dibagi 3 yakni;
a) Jihad dengan lisan.
b) Jihad dengan harta.
c) Jihad dengan jiwa.
Jihad yang pertama berindikasi bahwa
orang yang melakukan jihad yang pertama dan utama adalah kesiapan mental yang
intinya keimanan dan ketabahan. Namun yang paling urgen adalah bagaimana
mempersiapkan kekuatan dan mengatur strategi menghadapi musuh sebelum terjun ke
medan pertempuran.
Jihad yang kedua dan ketiga menurut
sufi besar al-Muhasibi yang dikutip oleh Quraish Shihab mengatakan bahwa
syaitan amat pandai menyesuaikan bisikannya dengan kondisi manusia yang
dirayunya.maka dalam keadaaan seperti ini diperlukan upaya maksimal untuk
mengendalikan diri agar tidak mengikuti kehendak hawa nafsu yang mungkin saja
dapat meneyebabkan kita terjerumus ke tempat yang sangat hina dalam pandangan
Allah Swt. Oleh karena itu dituntut untuk menyiapkan iklim dan lokasi yang
sehat untuk menghalangi tersebarnya wabah dan virus. Seperti penyakit hati yang
disebarkan oleh syaitan dan nafsu manusia sendiri.
4. Hukum Jihad
1.) Hukum jihad dibagi menjadi dua yaitu fardhu
(wajib) dan fardu kifayah.
a.) Hukum jihad adalah fardhu (wajib)
dengan dasar firman Allah.
Artinya: Diwajibkan
atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.
boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi
(pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui,
sedang kamu tidak mengetahui. Al-Baqarah: 216
Ayat ini
merupakan penetapan kewajiban jihad dari Allah Azza wa Jalla bagi kaum
Muslimin, agar mereka menghentikan kejahatan musuh dari wilayah Islam.
Menurut
Muhammad bin Syihab az-Zuhri:”Jihad itu wajib bagi setiap individu, baik yang
dalam keadaan berperang maupun yang sedang duduk (tidak ikut berperang). Orang
yang sedang duduk, apabila dimintai bantuan, maka ia harus memberikan bantuan,
jika diminta untuk maju berperang, maka ia harus maju perang, dan jika tidak
dibutuhkan, maka hendaklah ia tetap di tempat (tidak ikut). Tafsir Ibnu
Katsir (I/270)
b) Hukum jihad adalah fardhu kifayah.
Dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih serta penjelasan
ulama Ahlus Sunnah antara lain dari Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 95-96.
Artinya: “ Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut
berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan
Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang
berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat.
kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan
Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala
yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. dan
adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nisaa: 95-96)
Maksudnya:
yang tidak berperang karena uzur, yang tidak berperang tanpa alasan.
sebagian ahli tafsir mengartikan qaa'idiin di sini sama dengan arti qaa'idiin
Maksudnya: yang tidak berperang karena uzur.
Empat Imam
Madzhab dan lainnya telah sepakat bahwa jihad fii sabiilillaah hukumnya adalah
fardhu kifayah, apabila sebagian kaum Muslimin melaksanakannya, maka gugur
(kewajiban) atas yang lainnya. Kalau tidak ada yang melaksanakan-nya maka
berdosa semuanya.
Para ulama
menyebutkan bahwa jihad menjadi fardhu ‘ain pada tiga kondisi:
a) Apabila pasukan Muslimin dan kafirin
(orang-orang kafir) bertemu dan sudah saling berhadapan di medan perang, maka
tidak boleh seseorang mundur atau berbalik.
b) Apabila musuh menyerang negeri
Muslim yang aman dan mengepungnya, maka wajib bagi penduduk negeri untuk keluar
memerangi musuh (dalam rangka mempertahankan tanah air), kecuali wanita dan
anak-anak.
c) Apabila Imam meminta satu kaum atau
menentukan beberapa orang untuk berangkat perang, maka wajib berangkat..
Dalilnya adalah surat at-Taubah 38-39.
Artinya : ““Hai orang-orang yang beriman, Apakah sebabnya bila
dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah"
kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan
kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup
di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit,
Jika kamu
tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang
pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat
memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu.(At- taubah: 38-39)
2)
Orang yang di wajibkan berjihad
adalah.
1. Setiap
Muslim.
2. Baligh.
3.
Berakal.
4.
Merdeka.
5.
Laki-laki.
6.
Mempunyai kemampuan untuk berperang.
7. Mempunyai harta yang mencukupi
baginya dan keluarganya selama kepergiannya dalam berjihad.
Bagi kaum
wanita tidak ada jihad, jihad mereka adalah haji dan ‘umrah. Hal ini
berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ‘Aisyah
Radhiyallahu ‘anha, ketika beliau bertanya kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam:
“Wahai
Rasulullah, apakah kaum wanita wajib berjihad? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam menjawab: ‘Ya, kaum wanita wajib berjihad (meskipun) tidak ada
peperangan di dalamnya, yaitu (ibadah) haji dan ‘umrah.’” (HR. Al-Bukhari (no.
1520)
3). Pahala jihad
Pahala-pahala
dan balasan yang akan di terima oleh orang yang berjihad di jalan Allah
berdasarkan ajaran Al-Quran:
1.
Allah
Berfirman :
Artinya:“Hai orang-orang yang beriman,
sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari
azab yang pedih?, (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan
berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu,
jika kamu mengetahui”. (Ash Shaff: 10-11)
2.
Hadis Rosulullah Saw, yang artinya “
Barang siapa berjuang di jalan Allah untuk Berperang maka setiap
langkah-langkahnyadi balas dengan tuturatus ribu kebaikan dan di hapus darinya
dan di hapus tujuratus ribu kejelekan serta di tinggikan baginyatujuratus ribu
derajat.
C.
KAITAN/HUBUNGAN
DAKWAH DAN JIHAD
Ketika
Allah swt mengutus Muhammad menbawa risalah maka dia menetapkan dua tujuan,
yaitu melenyapkan kemusyrikan di muka bumi dan merealisasikan kepemimpinan
agama Allah swt di muka bumi, sehingga dia dapat menyampaikan seruan dengan
lantang dan mengokohkan kalimatnya yang luhur.
Dari
tujuan tersebut dapat dipahami bahwa Nabi Muhammad dalam menjalankan missinya
dilakukan dengan lemah lembut berupa ajakan atau dakwah bilhikmah agar umat manusia
menerima Islam dengan hati yang lapang. bukan semata-mata pertumpahan darah
untuk meraih kemenangan, melainkan mengandung dakwah Islamiyah artinya
menyelamatkan diri dari tekanan dan perlakuan kezaliman dari orang-orang kafir
serta menghancurkan benteng-benteng penghalang dalam melaksanakan dakwah. Dan
juga bahwa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. adalah demi
keselamatan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Bukanlah
implementasi paksaan untuk memeluk agama Islam.
Jadi
jelaslah bahwa gambaran sebagian orientalisme tentang Islam yang diidentikkan
dengan pedang kekerasan tidaklah sepenuhnya benar. Sebagaimana argumern Thomas
Arnold yang dikutip oleh syaik Muhammad adalah; “pemikiran yang menyatakan
pedang merupakan faktor yang menentukan masuknya Islam banyak orang, sama
sekali tidak benar. Kalau pedang harus digunakan, maka hal itu dilaksanakan
semata-mata untuk mendukung hukum-hukum agama. Dakwah dan seruan bukan
kekerasan. Dimana hal tersebut merupakan dua karakter penting dalam gerakan
Islam.
Dari
gambaran tersebut di atas, dapat di fahami bahwa orientalis yang obyektif akan
mengakui bahwa pada dasarnya penetapan kewajiban jihad berangkat dari kebutuhan
Islam akan kekuatan, sebagai salah satu prinsip yang ingin digerakkan dalam
kehidupan dan mengatur kehidupan, yang merupakan refleksi dari kehendak Tuhan
yang menciptakan manusia yang ingin mengatur kehidupan manusia sesuai dengan
kehendaknya.
Dengan
demikian manusia pada aspek ini tidak memiliki kebebasan untuk menerima dan
menolak kehendak Tuhan, kalaupun ia memiliki kebebasan, maka hal ini terdapat
tanggung jawab. Lain halnya dengan prinsip-prinsip non samawi terkadang
bertolak dari kehendak manusia sendiri sebagai sesuatu yang alami, yang
dengannya tidak merasakan adanya ikatan-ikatan internal untuk melaksanakan dan
meninggalkan sesuatu.
Hubungan
dakwah dengan jihad merupakan satu mata rantai yang tidak bisa dipisahkan
karena dakwah adalah perjuangan untuk kemenangan yang ma’ruf atas yang mungkar,
perjuangan menegakkan yang haq dan menghapus kebatilan, maka dakwah termasuk
dalam kategori jihad. jihad bukan semata-mata peperangan tapi mempunyai
arti yang luas yakni segala ikhtiar dan daya upaya menegakkan kalimah Allah
termasuk menyiarkan dan menyampaikan dakwah agama serta mengatakan kebenaran
kepada manusia.
D.
KESIMPULAN
Dakwah
adalah kewajiban semua manusia dari individu maupun golongan, semuanya berkewajiban
untuk menyebarkan agama islam, memperbaiki akhlak baik diri sendiri maupun
orang lain,
Selain
berdakwah kita juga mempunyai kewajiban unruk berjihad di jalan Allah sesuai
ajaran dan ketentuan yang sudah di ajarkan dalam Kitab suci Al-Quran maupun As
sunah sebagai pedoman umat Islam semuanya.
Pahala jihad sangat besar, apabila
jihad tersebut berdasarkan ketentuan Allah Swt, dan pahala tersebut tidak hanya
orang-orang yang meninggal dalam medan perang namun juga orang-ogang yang
selamat dari peperangan tersebut dan masih terus berjuang di jalan Allah,
Jari pembahasan di atas dapat kita
simpulkan bahwasanya dakwah juga termasuk jihad karena sama-sama berjuang di
jalan Allah, dengan dakwah kita bisa menyebarkan agama islam, memperbaiki akhlak,
DAFTAR
PUSTAKA
Hasjmy
Ahmad, Dustur Dakwah Menurut Al-Qur’an, Bulan
Bintang, 1974, hal 52
Toha
Yahya Unar, Islam Dan Dakwah, AL-mawardi Prima, Jakarta, 2004,hal 67
Drs,
M Chirzin, Jihad dalam Al-Quran, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 1997, hal 12
Husain
Mazhahiri, Menelusuri Makna Jihad, 2000, hal 12-16
0 komentar:
Posting Komentar